Press "Enter" to skip to content

Film Polaroid, kutukan sebuah kamera tua


Rating: PG-13 (for terror, thematic elements, brief strong language, some teen drinking and drug material)
Genre: Horror
Directed By: Lars Klevberg
Written By: Blair Butler
In Theaters: Dec 1, 2017  Wide
Studio: Dimension Films

Bukan kamera digital DSLR atau mirrorless yang saat ini sedang trend melainkan sebuah kamera jadul lengkap dengan kutukan yang siap memburu siapa saja yang muncul difoto. Seperti film-film kutukan kebanyakan, film Polaroid lebih mengedepankan sisi kengerian dengan banyak adegan yang siap mengejutkan buat siapa saja yang menontonnya.

Sinopsis

Sedari awal film ini memang sudah terasa nuansa mencekamnya. Dua orang remaja yang sedang berbincang membicarakan kematian ibunya di sebuah kamar dengan cahaya temaram. Hingga salah seorang dari mereka menemukan sebuah kamera milik peninggalan ibunya. Tanpa disadari kematian memburu siapa saja yang difoto oleh kamera tersebut.

Dilain tempat, kamera tersebut nyasar di sebuah toko antic milik Tyler (Davi Santos) yang kemudian memberikannya kepada Bird Fitcher (Kathryn Prescott) sebagai hadiah. Lewat kamera antik ini, Bird  mencobanya melalui Tyler, sayangnya ia sama sekali belum menyadari bahaya yang mengintai siapa saja yang difoto lewat kamera ini. Hingga pada suatu malam di sebuah pesta kostum, Bird diberitahu soal kematian Tyler oleh polisi setempat. Kematian demi kematian pun terjadi. Avery (Katie Stevens) pemilik rumah pesta kostum yang sempat difoto meninggal secara misterius dirubanah rumahnya.

Hal inilah yang mengusik Bird untuk mengetahui penyebab kematian misterius yang menimpa teman-temannya. Sampai pada suatu ketika Bird menyadari bahwa kamera itulah penyebabnya dan itu bisa terlihat bayangan yang menghantui lewat foto hasil jepretan kamera tadi. Mengetahui hal itu, sebuah foto mereka yang diambil secara bersama berusaha dibakar oleh Devin (Keenan Tracey). Secara spontan tubuh mereka yang berada di foto tersebutpun ikut terbakar, hingga api tersebut berhasil padam setelah Bird memadamkan api difoto yang terbakar. Namun itu tidak berhasil menyelamatkan nyawa kekasih Devin, Mina (Priscilla Quintana) yang meninggal secara mengenaskan di rumah sakit. Devin pun menyalahkan Bird akan kematian kekasihnya.

Dibantu Connor (Tyler Young) dan Kasey (Samantha Logan), Bird menelusuri inisial “RJS” yang tertera di kamera tersebut. Diketahui bahwa inisial RJS adalah Roland Joseph Sable, seorang pembunuh anak-anak di kota itu. Bird dan Connor akhirnya menyelidiki lebih jauh dengan pergi ke rumah janda mendiang Roland. Dari sini istri Roland menceritakan bahwa pemilik sebenarnya kamera tersebut adalah anaknya; Rebecca Joseph Sable yang telah meninggal gantung diri akibat perbuatan bullying teman-temannya disekolah. Sebagai seorang ayah, Roland pun membalas dendam atas perbuatan anak-anak tersebut hingga pada akhirnya ia pun tewas setelah ditembak oleh polisi yang memburunya, akan tetapi ada satu anak yang berhasil lolos dari incaran Roland tadi.

Lewat petunjuk buku tahunan siswa, Bird dan Connor serta Kasey pergi menuju ke sekolah. Dari buku tahunan siswa ini mereka akhirnya mengetahui anak yang berhasil lolos dari incaran Roland yang tak lain adalah Sheriff Pembroke (Mitch Pillegi). Namun saying, aksi mereka keburu ketahuan sang Sheriff. Alhasil, merekapun tertangkap.

Twist di penghujung cerita

Penonton mungkin berharap saat Sheriff Pembroke adalah pelaku bullying Rebecca yang berhasil lolos si hantu Roland akan menyerangnya, dan cerita pun berakhir. Ternyata tidak sesederhana itu. Sheriff Pembroke akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya akan kematian Rebecca. Siapa Roland dan istrinya hingga kenapa Rebecca memutuskan hidupnya untuk menggantung diri. Tapi terlambat! hantu Roland membunuh sang Sheriff terlebih dahulu.

Endingnya, laksana pakem film horor yang menceritakan kaan benda kutukan, hantu pemilik benda tersebut akhirnya musnah di tempat ia pertama kali mati di masa hidupnya.

Diangkat dari film pendek

Film horor adaptasi Lars Klevberg ini sebelumnya pernah dibuat dalam versi film pendek dengan judul yang sama. Alih-alih akan tayang pada Desember 2017 malah diundur hingga rilis sekarang. Untuk sebuah film yang bisa dibilang tidak terlalu jelek, Polaroid sebenarnya telah kehilangan momentumnya untuk ditonton.

Film Polaroid mengingatkan saya akan film Shutter produksi negeri gajah putih. Hanya mungkin visualisasi hantu dan twistnya yang lebih mengena. Sebagai penutup, film ini masih layak ditonton oleh mereka yang kangen akan jumpscare yang sayang sekali untuk dilewatkan jika hanya melihat lewat situs internet.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *