Press "Enter" to skip to content

Captain Marvel – Review

Rating:PG-13 (for sequences of sci-fi violence and action, and brief suggestive language)
Directed By:Anna Boden, Ryan Fleck
Written By:Anna Boden, Ryan Fleck, Geneva Robertson-Dworet
In Theaters:Mar 8, 2019
Runtime:128 minutes
Studio: Marvel Studios

Tayang dua hari lebih awal dari bioskop negera kelahirannya, Captain Marvel sudah serentak keliling bioskop di Indonesia tepat tanggal 6 Maret 2019 lalu. Sama seperti film besutan MCU lainnya seperti Age of Ultron, Dr Strange atau juga Black Panther yang lebih awal tayang di Indonesia. Salah satu alasan kenapa premierenya lebih awal di Indonesia menurut saya adalah pangsa pasar disini yang lebih banyak penggemarnya. Atau bisa jadi untuk menghindari film-film bajakan jika lebih dulu tayang di Amerika sana. Tahu sendiri kan prinsip masyarakat berflower; Kalau ada yang lebih murah, buat apa cari yang mahal.

Salah satu alasan utama mengapa film yang dibintangi oleh Brie Larson ini begitu ditunggu-tunggu adalah apakah memang Captain Marvel merupakan sosok superheroine yang tepat untuk mengalahkan Thanos di Avengers: Endgame mendatang? Seperti diketahui ada banyak spekulasi mengenai akhir dari peperangan melawan Thanos. Terlebih lagi jika diperhatikan pada post credit scene di film Infinity War terdapat adegan Nick Fury menyeranta pager Captain Marvel sebelum ia menghilang akibat jentikan Thanos. Pun di trailer Avengers: Endgame juga terdapat adegan Scott Lang “The Antman” berada di depan pintu markas the Avengers sehingga terlihat oleh captain America dan Black Widow di layar CCTV. Apakah ada korelasi antara Scott Lang dan Carol Denvers “Captain Marvel” di Avengers:Endgame? Memang saya harus tunggu sampai bulan April mendatang.

A Badass Superhero

Dipilihnya Brie Larson sebagai Capt. Marvel adalah keputusan yang menurut saya sangat pas. Aktris 29 tahun ini sukses menampilkan sisi innocent sekaligus rasa KEPO-nya pasca kehilangan ingatan. Walaupun sebelumnya banyak audiens dan beberapa fans yang skeptis akan penunjukan Larson sebagai sosok superheroine terkuat di jagat Marvel ini, Larson berhasil mematahkan anggapan-anggapan tersebut. Ketika ia harus dipasangkan dengan Samuel L. Jackson pemeran Nick Fury. Chemistry-nya terasa kental sehingga keduanya mampu mengimbangi satu dengan yang lain.

Nostalgia 90 an

Film yang oke buat hiburan

Menonton film Captain Marvel pemirsa akan diajak untuk bernostalgia ke era 90 an. Setting yang dipakai di film ini memang sengaja mengarah kesana. Masa dimana seorang Nick Fury dipasangkan dengan Agent anyar Coulson (Clark Gregg) sebagai partnernya di SHIELD. Maka tak heran jika pemirsa akan mellihat aksi kejar-kejaran dengan mobil Ford yang berbadan lebar atau tempat penyewaan kaset video yang saat itu sedang boomingnya. Dan yang tak kalah penting di film ini adalah deretan soundtracknya saat Captain Marvel beraksi.

Siapa yang setuju kalau film ini adalah film yang oke sebagai film hiburan? Layaknya film-film superhero serupa, Anna Boden dan Ryan Fleck; sang sutradara sekaligus penulis naskahnya, pas meracik ramuan difilm ini sehingga layak menghibur. Secara umum formula yang dipakai memang persis kebanyakan film superhero lainnya. Meski demikian, Captain Marvel dikemas dengan begitu menghibur sehingga filmnya asyik untuk diikuti dengan tidak membosankan. Ini bisa dilihat saat adegan Thalos (Ben Mendelsohn); Skrull army, merasa ketakutan waktu Nick Fury menggendong si kucing Goose yang notabene ia sendiri tidak mengetahui bahwa Goose adalah seekor Flerken, mahluk yang ditakuti di planet Kree dan memiliki tentakel untuk melahap mangsanya dalam keadaan bahaya. Sekedar informasi tambahan, Goose ini merupakan kucing peliharaan Dr. Wendy Lawson yang sebenarnya adalah seorang Kree yang sedang mengadakan uji coba di sebuah proyek rahasia milik NASA.

Berbeda dengan komiknya

Jika anda seorang Marvellian, ada banyak sekali perbedaan antara film dan komiknya. Perbedaan tersebut mulai dari cerita, karakter, dan beberapa hal lainnya. Biasanya dari pihak film memang menghendaki beberapa perubahan sesuai tema dari film itu sendiri. Selama tidak merubah pakem film tersebut, menurut saya ini hal yang wajar-wajar saja.

Twist plot

Kalau ada yang mengatakan jika menerima informasi suatu film jangan sepotong-potong, apalagi hanya melihat trailer belaka. Di film ini saya sempat kecele karena karakter yang tadinya menurut saja jahat ternyata merupakan kebalikannya.

Kesimpulan

Pada akhirnya, Captain Marvel buat saya merupakan film prekeuelAvengers: Endgame yang cukup menghibur. Apakah Fun? Yup, memang fun dan enjoyable, terutama soundtrack yang megiringi dibelakangnya. Buat saya yang besar di tahun 90 an, kerasa sekali nuansanya. Sayangnya, di film ini memang menampilkan kekuatan dahsyat milik Carol. Hanya saja kekuatannya tadi masih terlalu wah jika hanya untuk menghadapi villain sekelas Yon-Rogg atau Supreme Intellegence. Jadi kesimpulannya cocok buat mereka yang ingin menonton film superhero tanpa harus pusing memikirkan jalan cerita, tapi masih gamang buat mereka yang penasaran untuk mencari korelasi film ini dengan Avengers:Endgame.

 

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *